![]() |
| Ngoten (Ilustrasi by Dika) |
Saya tidak pernah punya niat khusus waktu mulai menulis. Iseng saja, sekadar menumpahkan pikiran biar tidak menumpuk di kepala. Kebanyakan menulis di blog pribadi, belakangan mulai tertarik dengan Kompasiana.
Saya menulis apa saja. Kadang refleksi, kadang opini ringan, kadang hanya cerita pengalaman. Setelah itu saya bagikan linknya ke media sosial. Ya siapa tahu ada yang mau baca. Tapi ternyata, dari iseng-iseng share link itu justru mendatangkan hal-hal baru.Lama-lama, tulisan saya dibaca lebih banyak orang. Ada yang komentar, ada yang menyapa, bahkan ada yang mengirim pesan pribadi.
Sampai satu hari, ada seseorang yang bilang suka dengan gaya tulisan saya, atau lebih tepatnya sudut pandangnya. Siapa sangka, ia mengajak saya menulis untuk salah satu rubrik di websitenya.
Waktu itu saya sempat domblong (bengong). Hanya tidak menyangka saja, ada orang yang suka dengan tulisan saya yang jauh dari kata bagus ini alias B aja. Bisa-bisanya ditawari. Rasanya aneh, tapi menyenangkan juga.
Setelah itu, tawaran lain datang lagi. Ada lembaga pendidikan yang meminta saya membantu menulis artikel mingguan untuk situs mereka. Ada juga yang mengajak untuk bantu bagian content writter, bikin-bikin caption, headline dan semacamnya.
Ngonten atau menulis tidak selalu soal mendapat uang dari platform tempat kita menulis. Kadang hasilnya datang dari arah lain. Dari orang yang membaca, dari peluang yang tiba-tiba muncul, membentuk hubungan dan sebab akibat yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Karya-karya (tulisan) itu bekerja diam-diam. Secara tidak langsung memperkenalkan siapa sosok dibaliknya, caranya berpikir, dan bagaimana ia menyampaikan sesuatu. Lama-lama, tanpa sadar, itu jadi semacam portfolio.
Dan tentu saja portfolio itu tidak kita bangun dengan niat pamer. Tapi terbentuk pelan-pelan dari konsistensi. Dari kebiasaan ngonten (menulis) apa adanya.
Agak sedikit berlebihan sih, tapi saya perlu mengakui bahwa menulis adalah bentuk investasi yang tidak ada jangka waktunya.
Banyak ahli, pkar, praktisi, professional, akademisi sepakat bahwa bisa menulis merupakan poin sendiri bagi siapapun.
Seorang dokter sudahlah professional dari kompetensi kemedisannya, namun dokter yang bisa menulis adalah dokter yang punya value dan membuatnya berbeda dari dokter-dokter lainnya.
Pun demikian, seorang kuli bangunan sekalipun, kalau dia punya minat dan skill menulis barangkali dia bukan orang biasa.
Kadang hasilnya bukan uang, tapi kesempatan. Kadang pertemanan baru. Kadang sekadar rasa percaya diri bahwa apa yang kita tulis atau kita pikirkan punya tempat di luar sana.
Sekarang, kalau ada yang tanya apakah menulis bisa menguntungkan, saya akan jawab bisa! tapi mungkin bukan dengan cara yang mereka pikirkan. Setidaknya dengan menulis, kita terbuka dan lebih dekat pada kemungkinan-kemungkinan baru.
Di dunia digital seperti sekarang, satu tulisan di blog bisa dibaca siapa pun. Kadang yang membaca juga bukan orang sembarangan. Bisa saja calon klien, rekan kerja, atau seseorang yang sedang mencari gaya tulisan tertentu.
Mungkin memang begitu cara dunia bekerja. Tidak semua hal harus direncanakan. Kadang cukup lakukan saja, lalu biarkan, apapun hasilnya.
Bagi saya ngonten dalam bentuk apa pun, baik video, tulisan, gambar sekarang bukan cuma aktivitas iseng saja. Ia menjadi semacam cara baru untuk merepresentasikan who we are.
Dan kalau dibilang menguntungkan, iya. Tapi sekali lagi, keuntungannya bukan semata uang. Kadang lebih berharga dari itu. Kesempatan, pengalaman, dan kepercayaan yang tumbuh secara alami.
dk.
