![]() |
| Harga Pertamax (Ilustrasi by Dika) |
Saya tegaskan dulu di awal, bahwa saya tidak keberatan Pertamax naik. Toh masyarakat masih punya pilihan BBM yang lebih murah karena Pertalite tidak ikut naik. Jadi tulisan ini bukan ajakan untuk memprotes kenaikan harga BBM. Saya cuma sedang mengeluhkan sesuatu yang menurut saya lebih mengganggu daripada kenaikannya sendiri.
Yang saya persoalkan adalah tentang angkanya. Kenapa harus Rp16.250 per liter? Kenapa tidak Rp16.000? Atau kalau memang mau naik, kenapa tidak sekalian Rp16.500 saja. Saya yakin selisihnya tetap terasa, tapi setidaknya angkanya lebih masuk akal. Ini bukan soal mahal atau murah, tapi soal nominal yang bikin malas.
Saya termasuk orang yang sudah lama tidak mengisi Pertalite. Bukan karena anti, apalagi gengsi. Saya hanya tidak suka mengantre. Sejak kenaikan BBM sebelumnya, antrean Pertalite sering kali mengular. Daripada menghabiskan waktu di SPBU, saya memilih berdamai dengan dompet dan mengisi Pertamax.
Karena sudah terbiasa, saya sebenarnya tidak terlalu memikirkan harga Pertamax. Mau naik ya silakan. Toh kalau dihitung-hitung, waktu yang saya hemat karena tidak ikut mengantre juga ada nilainya. Jadi sekali lagi, saya tidak sedang mempermasalahkan kenaikan harga.
Yang bikin saya persoalkan adalah justru di belakang harganya itu. Dua ratus lima puluh rupiah. Angka receh yang sekarang keberadaannya pun sudah seperti legenda. Kita tahu nominalnya ada, tapi entah di mana wujudnya.
Beberapa waktu lalu saya iseng memperhatikan perilaku orang ketika membeli Pertamax di SPBU dekat rumah. Bukan riset ilmiah yang serius, hanya pengamatan kecil-kecilan. Hasilnya cukup menarik. Ternyata sebagian besar orang membeli BBM berdasarkan nominal uang, bukan berdasarkan jumlah liter.
Seringkali saya mendengar, termasuk saya sendiri sih. Lebih sering terdengar, "Isi dua puluh ribu, Mas." Atau, "Isi tiga puluh ribu." Jarang sekali ada yang berkata, "Isi satu liter." Padahal SPBU menjual BBM dalam satuan liter, bukan dalam satuan dua puluh ribuan.
Saya rasa alasannya sederhana saja. Orang malas at least saya, berurusan dengan angka-angka yang aneh itu. Lebih praktis menyebut nominal uang, menyerahkan uang pas, lalu selesai. Tidak perlu menunggu kembalian, tidak perlu menghitung receh, tidak perlu membuat petugas SPBU ikutan pusing.
Nah, sekarang coba kita balik kebiasaannya. Bayangkan semua orang yang membeli Pertamax tiba-tiba kompak membeli berdasarkan liter. Satu liter, dua liter, tiga liter. Bukan lagi berdasarkan nominal uang.
Misalnya saya membeli satu liter Pertamax. Total yang harus saya bayar Rp16.250. Saya menyerahkan uang Rp20.000, lalu berkata kepada petugas, "Kembaliannya yang pas ya, Mas."
Pertanyaannya, dari mana petugas SPBU mendapatkan uang lima puluh rupiah itu? Kalau kembaliannya kurang, pembeli dirugikan. Kalau lebih, SPBU yang rugi. Memang nilainya kecil. Mungkin banyak orang akan berkata, "Ah, cuma lima puluh rupiah ini." Tapi kalau jutaan transaksi terjadi setiap hari, lima puluh rupiah itu tetap uang.
Yang membuat saya herman, kenapa harus memilih angka yang menyulitkan transaksi sih? Bukankah jauh lebih sederhana kalau harganya dibulatkan saja? Semua orang lebih mudah menghitung, petugas lebih mudah mengembalikan uang, dan tidak ada lagi drama tidak ada uang kecil (50 rupiah) recehan yang entah harus dicari sampai ke dasar laci kasir.
Jadi kalau suatu hari nanti semua pembeli Pertamax benar-benar membeli berdasarkan liter dan sama-sama meminta kembalian pas, saya penasaran saja. Kira-kira berapa hari petugas SPBU masih bisa menyediakan uang pecahan Rp50? Atau jangan-jangan akhirnya mereka juga ikut menyerah, lalu berkata, "Kembaliannya dibulatkan saja ya, Mas?" dan tinggal siapa yang mau rugi, SPPU atau masyarakat.
dk.
