Keluar Kok dari Zona Nyaman, dari Keterpurukan Dong!

Pangestu Adika
0

 

Zona Nyaman (Ilustrasi by Dika)

"Keluar dari zona nyaman."Frasa ini mungkin menjadi salah satu gagasan yang seringkali kita dengar. Baik itu dalam forum seminar motivasi, media sosial, podcast atau program tivi, ataupun obrolan sehari-hari, seolah-olah gagasan itu menekankan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang berani ambil resiko. Sampai saat ini saya tidak pernah benar-benar tau maksud dari frasa itu, terutama pada bagian "zona nyaman"nya.

Saya mencoba menerka dari apa yang saya pahami dari gagasan-gagasan "keluar dari zona nyaman" itu. Kalau zona nyaman adalah suatu kondisi hidup seseorang yang memiliki pekerjaan dengan jam kerja yang teratur, penghasilan tetap setiap bulan, rumah yang sederhana tetapi cukup, keluarga yang harmonis, dan hidup yang tidak dipenuhi kecemasan, lalu apa yang salah dengan semua itu?

Bukankah sejak kecil kita justru diajarkan untuk mengejar keadaan seperti itu? Kita belajar supaya mendapat pekerjaan yang baik, bekerja keras supaya hidup lebih layak, menabung agar masa depan lebih tenang, dan berusaha agar keluarga tidak lagi hidup dalam kekurangan.

Kalau dipikir-pikir, seluruh perjuangan itu memiliki tujuan yang sama, hidup yang lebih nyaman. Tidak ada orang tua yang menyuruh anaknya belajar mati-matian agar kelak hidupnya penuh ketidakpastian. Tidak ada yang bekerja lembur bertahun-tahun dengan harapan suatu hari nanti bisa hidup semakin sulit. Hampir semua usaha yang kita lakukan bermuara pada keinginan yang sederhana, yaitu hidup yang lebih tenang daripada hari ini.

Karena itu saya jadi bingung, untuk apa gagasan "keluar dari zona nyaman" itu? Mengapa ketika seseorang akhirnya mendapatkan kehidupan yang stabil, justru muncul dorongan agar ia segera keluar dari sana? Mengapa kenyamanan yang selama ini diperjuangkan tiba-tiba diposisikan seperti sesuatu yang harus ditinggalkan dengan dalih mencari tantangan? Bukankah itu terdengar sedikit paradoks?

Saya tahu alasan yang sering diberikan. Katanya supaya berkembang. Supaya tidak monoton. Supaya menemukan tantangan baru. Saya sama sekali tidak memiliki masalah dengan alasan-alasan itu. Kalaupun ada seseorang yang ingin membangun perusahaan, berpindah karier, merantau ke negeri orang, atau mengambil risiko yang lebih besar demi mimpinya, saya menghormati pilihan tersebut. Itu jalan hidupnya.

Yang menjadi keresahan saya adalah ketika gagasan itu terus dipromosikan, diafirmasikan, dimotivasi, bahkan didorong seolah-olah menjadi jalan yang seharusnya ditempuh oleh kebanyakan orang. Seolah-olah hidup yang baik adalah hidup yang terus meninggalkan kenyamanan. Seolah-olah orang yang memilih bertahan dalam kehidupan yang "nyaman" adalah orang yang kurang berani dan tidak keren.

Saya pribadi tidak mencari hidup yang terlihat keren. Saya tidak merasa harus selalu punya cerita tentang bagaimana saya mengambil risiko besar atau memulai semuanya dari nol. Yang saya cari jauh lebih sederhana. Saya ingin hidup yang nyaman, tenang, dan tidak dipenuhi kecemasan. Saya ingin bisa pulang tanpa membawa beban pekerjaan ke rumah. Saya ingin bisa tidur tanpa memikirkan tagihan yang belum terbayar. Saya ingin bisa menikmati waktu bersama keluarga tanpa terus dihantui ambisi untuk menjadi lebih besar.

Mungkin ada yang berkata bahwa cara berpikir seperti itu membuat seseorang berhenti berkembang. Saya justru ingin bertanya balik, berkembang menurut siapa? Bukankah setiap orang memiliki definisi hidup yang berbeda?

Ada yang merasa bahagia ketika berhasil membangun perusahaan besar. Tapi ada juga yang merasa cukup ketika bisa membiayai pendidikan anak-anaknya. Ada yang merasa sukses ketika akhirnya tidak lagi khawatir dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Mengapa salah satunya harus dianggap lebih mulia daripada yang lain?

Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika orang-orang yang belum benar-benar memahami dirinya sendiri termakan oleh slogan-slogan motivasi itu. Mereka merasa harus keluar dari apa yang disebut zona nyaman, padahal yang mereka miliki sebenarnya adalah pekerjaan yang layak, penghasilan yang cukup, dan kehidupan yang stabil. Mereka mengambil keputusan besar bukan karena memang menginginkannya, melainkan karena biar terlihat keren dan progresif. Padahal, belum tentu jalan hidup yang cocok bagi orang lain juga cocok untuk dirinya.

Menurut saya, justru kalau memang ada zona yang layak didorong untuk ditinggalkan, zona itu adalah keterpurukan. Keluar dari pekerjaan yang bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Keluar dari utang yang membuat hidup sesak. Keluar dari lingkungan yang merusak. Keluar dari keadaan yang membuat seseorang kehilangan harapan untuk hidup lebih baik. Itu perjuangan yang masuk akal. Itu perubahan yang memang layak diperjuangkan.

Sedangkan kalau seseorang sudah memiliki kehidupan yang ia syukuri, pekerjaannya ia nikmati, keluarganya bahagia, dan kebutuhannya terpenuhi, saya tidak melihat alasan mengapa ia harus merasa bersalah karena memilih bertahan.


dk.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)