![]() |
| Penasihat Kondang (Ilustrasi by Dika) |
Belakangan pikiran saya sedikit terusik. Bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah dalam sebuah perkara yang sedang ramai diperbincangkan. Bukan pula tentang apakah seseorang berhak menjadi penasihat hukum bagi siapa pun yang membutuhkan jasanya. Yang mengganggu perhatian saya justru sesuatu yang lebih sederhana, tetapi terasa lebih mendasar, yaitu cara seseorang berbicara.Saya percaya, jauh sebelum orang dinilai dari putusan pengadilan, ia lebih dulu dinilai dari cara ia memperlakukan kata-kata.
Saya selalu meyakini bahwa bahasa adalah pintu yang paling jujur untuk melihat isi kepala seseorang. Pilihan diksi, cara menyusun argumen, nada bicara, hingga bagaimana ia merespon pertanyaan yang tidak disukainya, semuanya memperlihatkan cara berpikir yang mungkin selama ini tersembunyi. Dalam banyak keadaan, kata-kata tidak sekadar menjadi alat menyampaikan pikiran, tetapi juga cermin yang memantulkan watak.Belakangan saya menyaksikan sebuah pernyataan terbuka (konferensipers) yang ramai dibicarakan. Saya tidak tertarik pada substansi isu atau perkara yang sedang dibela, melainkan bagaimana ruang komunikasi itu berlangsung. Pertanyaan tidak dijawab dengan ketenangan, melainkan dibalas dengan pertanyaan lain. Fokus persoalan tidak diarahkan pada inti yang sedang dipersoalkan, melainkan perlahan digeser menuju arah yang berbeda. Bahkan pada satu titik, kualitas penanya terasa lebih penting untuk dipersoalkan daripada isi pertanyaannya sendiri.
Saya mencoba memahaminya dari sudut pandang yang sederhana. Setiap penasihat hukum tentu berkewajiban membela kepentingan kliennya. Itu bukan sesuatu yang aneh. Bahkan saya menghormati profesi yang memang dibangun di atas prinsip tersebut. Namun membela seseorang tidak selalu identik dengan membangun cara berpikir yang memaksa publik meninggalkan substansi. Ketika pokok persoalan bergeser menjadi siapa yang mengenal siapa, siapa yang dekat dengan siapa, atau siapa yang seharusnya lebih dulu diberi tahu, saya merasa sedang diajak berjalan meninggalkan inti pembicaraan.
Yang lebih mengusik saya adalah ketika logika yang dibangun seolah meminta publik menerima bahwa kedudukan seseorang dapat mengubah cara kita memandang sebuah proses. Bukan lagi soal ada atau tidaknya dasar, melainkan soal mengapa orang tertentu diperlakukan demikian. Saya tidak sedang berbicara tentang hukumnya karena saya memang bukan orang hukum. Saya hanya merasa bahwa logika semacam ini perlahan menggeser cara kita memandang sesuatu. Tanpa sadar, perhatian kita dipindahkan dari persoalan inti menuju isu pengganti.
Saya juga merasa ada sesuatu yang tidak nyaman ketika sebuah pertanyaan dijawab dengan cara yang membuat penanya tampak tidak layak bertanya. Dalam ruang publik, saya selalu percaya bahwa pertanyaan boleh dianggap keliru, kurang tepat, bahkan dangkal sekalipun. Namun mempermalukan orang yang bertanya bukanlah cara terbaik untuk menunjukkan kecerdasan. Sebab kecerdasan yang sesungguhnya, menurut saya, justru tampak ketika seseorang mampu menjelaskan persoalan rumit tanpa perlu merendahkan siapa pun.
Lebih lanjut tidak kalah mengusiknya adalah soal konsistensi. Seorang yang kondang itu mengatakan bahwa uang bukan lagi persoalan karena hidup telah berkecukupan. Namun di kesempatan lain, publik pernah mendengar alasan yang berbeda ketika hubungan profesional dengan seorang klien berakhir karena persoalan bayaran. Saya tidak sedang menuduh siapa pun berbohong. Saya hanya merasa bahwa inkonsistensi selalu meninggalkan kekosongan yang kemudian diisi oleh suara publik. Kepercayaan tidak selalu runtuh karena kesalahan besar. Kadang ia retak oleh pernyataan-pernyataan kecil yang saling bertabrakan.
Bagi saya, semua itu merupakan "ketidakwajaran". Ketidakwajaran bukan berarti sesuatu itu dilarang atau pasti salah. Ketidakwajaran adalah keadaan ketika sesuatu dipaksakan melampaui sifat alaminya. Ia mungkin bisa dilakukan, tetapi membutuhkan effort yang jauh lebih besar untuk terus dipertahankan. Dan karena itulah, saya percaya setiap ketidakwajaran pada akhirnya akan menemukan batasnya sendiri.
Manusia pada dasarnya berjalan menggunakan telapak kaki. Kita tentu bisa berjalan sambil berjinjit. Bahkan mungkin sesaat terlihat menarik. Namun tidak ada orang yang mampu melakukannya sepanjang hari tanpa merasa lelah. Tubuh kita sendiri akan meminta kembali pada posisi yang wajar. Kewajaran ternyata bukan sekadar kebiasaan, melainkan mekanisme alam untuk menjaga keseimbangan.
Begitu juga saat berbicara, kita bisa meninggikan suara, membentak, atau terus-menerus berbicara dengan nada yang penuh tekanan. Namun pita suara memiliki batas. Energi memiliki batas. Emosi pun memiliki batas. Tidak ada orang yang mampu berteriak sepanjang hari tanpa akhirnya kehilangan suara atau minimal kerongkongannya perih. Alam selalu memiliki cara mengembalikan segala sesuatu pada ritmenya yang "normal".
Karena itulah saya percaya komunikasi pun memiliki hukum yang serupa. Sebuah narasi mungkin dapat bertahan dengan dramatisasi. Sebuah argumen mungkin dapat menarik perhatian dengan pengalihan fokus. Sebuah perdebatan mungkin dapat dimenangkan dengan merendahkan lawan bicara. Namun semua itu, menurut saya, membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada komunikasi yang jujur, tenang, dan konsisten. Semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk mempertahankan sebuah "argumen", semakin saya merasa bahwa cara itu sedang menjauh dari kewajaran.
Mungkin saya keliru. Mungkin pula penilaian saya terlalu personal. Namun sebagai orang yang sehari-hari bekerja di dunia komunikasi, saya sulit mengabaikan kesan bahwa apa yang belakangan dipertontonkan bukan sekadar strategi membela klien. Saya melihat pilihan diksi, cara membangun opini, penggeseran logika, hingga inkonsistensi yang perlahan membentuk satu gambaran utuh tentang bagaimana komunikasi mencerminkan seseorang. Dan terus terang, saya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak wajar.
Saya tidak sedang menanti seseorang jatuh, kehilangan nama besarnya, atau berhenti menjalankan profesinya. Yang saya nantikan justru jauh lebih sederhana. Saya menanti titik ketika publik kembali memiliki kepekaan untuk membedakan mana komunikasi yang mencerahkan dan mana komunikasi yang sekadar memukau. Sebab saya percaya, sebagaimana manusia tidak mungkin berjalan selamanya dengan berjinjit, ketidakwajaran dalam cara berpikir dan cara berkomunikasi pun tidak akan mampu bertahan tanpa batas. Cepat atau lambat, ia akan bertemu dengan titik jenuhnya sendiri.
