Bagian yang Hilang dari Konten-Konten Ebem

1

Bagian yang Hilang dari Konten-Konten Ebem
Mikir (Ilustrasi by Dika)

Kasus konten kreator Ebe Martono a.k.a. Ebem yang sedang menjadi sorotan publik saat ini mengingatkan saya pada satu detail yang hampir semua orang sebenarnya juga paham. Ada satu bagian yang hilang dari seluruh kegiatan kontennya. Bagian itu adalah berpikir.

Sebagaimana kita semua tahu, ada topik keilmuan yang bahkan secara intim membahas itu, filsafat berpikir. Emhaf kalau tidak salah, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Berpikir. Bahkan salah satu mata kuliah saya dalam Ilmu Komunikasi, filsafat berpikir dibahas dalam 2 SKS.

Ebem, dalam kegiatan berkontennya, melewatkan atau mungkin juga melupakan satu bagian yang paling krusial dan menentukan, yaitu berpikir. Saya sengaja memakai kata "mungkin", karena saya tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu.

Tapi kalaupun proses itu ada, hasilnya tetap membawa kita pada pertanyaan yang sama, memangnya tidak terpikir sama sekali apa yang akan terjadi setelah video itu diunggah?

Atau kalaupun mungkin proses itu tidak terlewat, maka setidaknya ada yang keliru dalam prosesnya. Emhaf dalam Filsafat Berpikir menjelaskan panjang lebar tentang proses berpikir.

Setidaknya "filsafat berpikir" itu memandu kita untuk berpikir dengan benar, salah satunya adalah berpikir tentang sebab akibat.

Sederhananya, sebelum melakukan suatu tindakan, baiknya mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya. Tidak perlu rumit. Kadang cukup bertanya pada diri sendiri, "kalau saya melakukan ini, apa yang mungkin terjadi setelahnya ya?"

Pertanyaan sesederhana itu sering kali menyelamatkan kita dari banyak persoalan. Sebaliknya, ketika pertanyaan itu tidak pernah muncul, yang ada bukan lagi keputusan, melainkan spontanitas. Dan spontanitas di era media sosial saat ini sering kali lebih berpotensi blunder.

Lupakan soal Filsafat Berpikir itu. Saya teringat kutipan Rocky Gerung yang mengatakan, "ijazah adalah tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir". Entah kita sepakat atau tidak, saya rasa kalimat itu terlalu sayang untuk diabaikan.

Barangkali memang situasi kita saat ini sedang mengalami krisis berpikir. Sekolah mungkin mengajarkan banyak hal, tetapi sepertinya kurang sukses membentuk kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak.

Kita diajarkan mencari jawaban yang benar, tetapi kadang tidak terlalu akrab dengan kebiasaan mempertanyakan kebenaran utamanya tindakan kita sendiri.

Bahkan kalau masih ingat, sang komedian kondang Cak Lontong pun melalui candanya soal "mikir" tidak pernah benar-benar dipahami sebagai refleksi diri, malah justru menjadi bahan bakar tawa. Semakin Cak Lontong bilang "mikir", tawa itu semakin menggelegar.

Jangan-jangan, kita memang mulai kehilangan kebiasaan berpikir itu. Semua harus cepat. Cepat merekam. Cepat mengunggah. Cepat viral. Soal benar atau salah, soal pantas atau tidak pantas, nanti saja dipikirkan belakangan. Toh kalau ramai tinggal klarifikasi. Kalau salah tinggal minta maaf.

Jadi ini bukan hanya soal Ebem sekarang. Lima sampai tujuh tahun belakangan kita sudah terbiasa dengan hadirnya "Ebem-Ebem" seperti ini. Namanya berbeda, wajahnya berbeda, platformnya berbeda. Tapi polanya hampir tidak pernah berubah.

Bikin ulah. Warganet menghakimi. Pelaku membuat klarifikasi dan meminta maaf. Seolah publik memaafkan karena cepat berlalu. Tidak lama kemudian muncul lagi tokoh baru yang melakukan hal serupa. Siklusnya berulang begitu saja, seolah-olah kita tidak pernah belajar apa pun.

Barangkali karena memang yang kita perbaiki selalu tentang individu alias orangnya, bukan cara berpikirnya. Padahal selama cara berpikir itu tidak berubah, selalu akan ada Ebem-Ebem berikutnya.

Mungkin persoalan terbesar kita hari ini bukan soal produk kontennya. Yang hilang  adalah kebiasaan sederhana sebelum melakukan tindakan apapun yaitu "mikir!".


dk.

Posting Komentar

1Komentar
Posting Komentar